Saturday, May 01, 2010

Kesepuluh orang kusta

Sepuluh orang kusta yang berada di desa perbatasan Galilea dan Samaria, suatu hari bertemu Yesus lalu berteriak meminta belas kasihan. Menanggapi permintaan tersebut maka Yesus memerintahkan mereka pergi menunjukkan diri kepada para imam agar dilihat apakah sudah tahir dari kusta. Dalam perjalanan kesepuluh orang kusta tersebut ternyata tubuh mereka menjadi tahir. Hanya seorang dari mereka yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur atas kesembuhannya. Ia adalah seorang Samaria.

Lukas adalah satu-satunya penulis injil yang memuat kisah tersebut dalam pasalnya yang ke-17 dengan tidak menjabarkan apa yang terjadi sepanjang perjalanan kesepuluh orang kusta itu saat hendak bertemu para imam. Tidak juga mencatat jawaban atas pertanyaan Yesus tentang keberadaan kesembilan orang yang disembuhkan dari kusta itu. Hal-hal tersebut menarik untuk dijelajahi dan dipaparkan berikut ini.

Orang sakit kusta pada masa itu tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Mereka dikumpulkan di satu tempat sehingga tidak menularkan orang lain. Apabila mereka berpapasan dengan orang sehat maka sudah wajib hukumnya mereka berteriak: "Najis,... Najis" berulang kali untuk menandakan bahwa mereka patut dijauhi. Mereka hanya menunggu ajal menjemput dengan sakit kusta yang melekat di tubuhnya. Kusta sudah menjadi vonis mati sosial bagi mereka karena tidak ada orang yang diperbolehkan berinteraksi dengan mereka lagipula status sosial mereka turun drastis ke tempat paling rendah. Dalam kondisi demikianlah kesepuluh orang kusta di perbatasan Galilea dan Samaria berjumpa dengan Yesus.

Saat kesepuluh orang kusta melihat rombongan Yesus melintas tempat mereka, tentunya mereka akan berteriak:"Najis,...Najis" berulang kali sebagaimana biasa mereka lakukan saat berpapasan dengan orang sehat. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa orang-orang yang berpapasan dengan mereka adalah rombongan Yesus dari Nazaret maka teriakan mereka berubah. Mereka berteriak:" Yesus, tuan kasihanilah kami." Hal ini menggambarkan bahwa mereka sudah mendengar bahwa Yesus adalah seorang rabbi yang berkuasa melakukan hal-hal ajaib sebagaimana telah terjadi di berbagai tempat di Israel saat itu. Faktor inilah yang mendorong mereka meminta belas kasihan Yesus untuk menyembuhkan mereka.

Sekelompok orang yang sudah lama tidak memiliki harapan untuk pulih dari sakit kusta, pada hari itu berpapasan dengan seorang yang mampu memberi sekaligus memenuhi harapan tersebut. Dalam pertemuan itulah sekelompok orang sakit kusta ini berharap kepada Yesus. Langkah pertama proses pentahiran sakit kusta kesepuluh orang itu dimulai dari berharap. Daud dalam salah satu mazmurnya pernah berujar:"Mengapa engkau tertekan hai jiwaku dan gelisah dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi." Seperti Daud mengajak jiwanya berharap kepada Allah, maka sekelompok orang sakit kusta itu menurutinya. Mereka berharap kepada orang yang tepat yaitu Yesus yang adalah Allah sendiri.

Bagi kebanyakan kita tindakan berharap sepintas mudah dilakukan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengkonfirmasi bahwa hal tersebut tidaklah mudah. Berharap memerlukan keyakinan dan kesungguhan hati serta pikiran untuk mempercayakan sesuatu dari diri kita kepada pihak lain. Berharap memerlukan konsistensi bahwa sekali berharap maka terus tetap berharap bukannya muncul tenggelam yang mencerminkan keraguan kita terhadap siapa kita berharap dan manfaat berharap itu sendiri.

Langkah kedua proses pentahiran kesepuluh orang kusta ini adalah menuruti perintah Yesus. Mereka tidak membantah saat Yesus memerintahkan mereka untuk pergi menemui para imam. Pada masa itu ketahiran seseorang dari sakit kusta tidak ditentukan oleh tabib tetapi oleh imam. Hal ini menunjukkan vonis sosial perlu dicabut dan tidak sekedar pulihnya tubuh seseorang dari sakit kusta. Imam mempunyai kuasa mencabut vonis sosial orang sakit kusta. Proses pentahiran dalam tahap ini tidaklah mudah juga. Kemungkinan besar mereka berpikir dan berharap Yesus akan menjamah atau berkata:"Sembuhlah kalian." Pergumulan antara hal yang diharapkan dengan yang terjadi menentukan tahap berikutnya. Meskipun tidak seperti yang diharapkan mereka, namun mereka memilih tetap mematuhi perintah Yesus.

Apakah penyakit kusta mereka sembuh saat mereka berangkat menemui para imam? Ternyata tidak. Proses pentahiran mereka terjadi dalam perjalanan menemui para imam. Hal ini memperlihatkan bahwa kuasa Allah mulai bekerja saat mereka mematuhi perintah Yesus.

Langkah ketiga proses pentahiran sekelompok orang sakit kusta ini adalah menempatkan prioritas hidup. Begitu menyadari bahwa dirinya pulih dari sakit kusta dipastikan terjadi perbincangan di antara mereka dalam perjalanan itu. Mula-mula mereka akan terkejut dan gembira karena sudah tahir dari kusta. Selanjutnya ada perdebatan apakah mereka melanjutkan perjalanan menemui para imam atau kembali kepada Yesus. Dapat dibayangkan masing-masing pihak mengajukan argumen-argumen yang menyakinkan untuk menguatkan pilihan tindakan mereka.

Tindakan untuk tetap pergi menemui para imam mempunyai argumen kuat yaitu mematuhi perintah Yesus. Tugas harus diselesaikan walau apapun yang terjadi, demikian kira-kira pendapat pihak ini. Sedangkan tindakan kembali kepada Yesus juga memiliki argumen yang tidak kalah kuat yaitu bersyukur kepada sang penyembuh karena bila tidak karena dia maka tidak ada kesembuhan.

Menurut Lukas 17, kesembilan orang sakit kusta yang memilih tetap menemui para imam adalah orang Israel. Sedangkan seorang yang memilih kembali kepada Yesus adalah orang Samaria. Para imam memiliki kedudukan terhormat bagi orang Israel sehingga patut didengar dan dipatuhi. Sedangkan meski dianggap orang kafir karena berdarah campuran, orang Samaria masih menghargai para imam. Dapat dipahami apabila kesembilan orang Israel tersebut tetap pergi menemui para imam untuk mendapatkan kembali status sosial mereka. Sedangkan bagi orang Samaria menemui para imam tidak akan meningkatkan status sosial mereka yang lebih rendah dibanding orang Israel. Pertanyaan Yesus tentang kesembilan orang sakit kusta yang disembuhkan sudah terjawab. Mereka berada bersama para imam untuk memastikan ketahiran mereka dan mendapatkan kembali status sosialnya.

Dalam perspektif demikian maka kesembilan orang Israel memilih untuk memprioritaskan menemui para imam agar status sosial mereka pulih seperti sediakala. Sedangkan orang Samaria memilih untuk memprioritaskan menemui Yesus dan bersyukur atas kesembuhannya. Prioritas hidup hendaknya diletakkan pada Yesus bukan yang lain.

Kesembuhan kesembilan orang Israel yang sakit kusta hanya kesembuhan jasmani sedangkan kesembuhan orang Samaria dalam Lukas 17 ini adalah kesembuhan jasmani dan rohani. Keselamat kekal menjadi milik orang Samaria karena imannya kepada Yesus.

Adalah tepat yang dikatakan dalam sebuah lagu "seek the blesser not the blessing" dalam konteks ini. Kiranya Tuhan Allah selalu mengarahkan kita untuk memprioritaskan Dia dalam setiap keputusan pergumulan hidup.

tabik,
yak