Wednesday, July 04, 2007

Kisah merantau di Jakarta : BEKERJA TANPA MELAMAR

Arifin sudah mencapai lintasan ke-71 dalam tahun-tahun hidupnya. Tidak dibayangkan sebelumnya bahwa tekad merantau ke Jakarta di tahun 1958 telah membawa langkahnya ke keadaan saat ini.

Seusai menamatkan SMA bagian A di Bukit Tinggi, Arifin memohon restu orangtua untuk merantau ke Jakarta. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dia turut bertanggungjawab meringankan beban ayahnya sebagai pegawai Jawatan Kereta Api. Perjalanan Padang – Jakarta dilalui dengan menumpang kapal laut selama dua hari satu malam sebelum akhirnya berlabuh di Tanjung Priok. Menjelang Jakarta, Arifin terpekur sesaat memandangi kertas bertuliskan alamat saudara jauhnya yang tinggal di Blok Q, Kebayoran Baru. Ia belum pernah ke Jakarta dan tidak tahu dimana letak Jl. Ciawi I/6, Kebayoran Baru itu berada. Kemudian ia memberanikan diri membuka percakapan dengan seorang bapak di dekatnya. “Bapak, tinggal dimana di Jakarta?” tanyanya. Sang Bapak menjawab “Saya tinggal di Blok A “. Arifin lalu melanjutkan dengan menunjukkan kertas alamatnya sambil bertanya “ Kalau alamat ini bapak tahu dimana letaknya?” “Oh, itu searah dengan tempat tinggal saya” sahut si Bapak. Lalu dilanjutkan dengan berkata “ Anak, kalau mau bisa sama saya ke arah sana, kebetulan saya dijemput anak saya” Alhamdulilah, seru Arifin dalam hati mendengar tawaran tadi. Tak berapa lama Arifin sudah tiba di perempatan CSW dan ketika akan berpisah Sang Bapak memberikan petunjuk arah rumah yang dituju Arifin.

Dengan bekal berikat kain mengelayut di belakang pundaknya, Arifin berjalan menuju rumah saudaranya. Tiga puluh menit berjalan kaki, sampailah Arifin di depan rumah Jl. Ciawi I/6. Dia melihat Oom-nya sedang duduk di beranda sambil membaca koran. Setelah menyapa salam dan berjabat tangan, maka Oom Arifin menyuruh masuk dan duduk bersamanya. Pertanyaan pertama Oomnya setelah bertukar kabar sebentar mengenai keluarga adalah: “ Apa maksud Arifin datang ke Jakarta?” Arifin menjawab: “Oom, saya akan mencari kerja lalu sore hari akan sekolah”. Kemudian Oomnya membalas “Itu non sense, Arifin!”. “Kalau kamu mau, ambil kursus saja, kursus bahasa Inggris, kebetulan cocok dengan sekolahmu.” Oom Arifin adalah pegawai Garuda Indonesia Airways yang bertugas menguji calon karyawan untuk bekerja di sana. Arifin menerima saran Oomnya untuk mengambil kursus bahasa Inggris di Kramat. Mulai hari itu Arifin tinggal bertiga dengan Oom dan Tantenya.

Sembari kursus, Arifin rajin membantu Oom dan Tantenya mengurus rumah sehingga makin sayang kedua Oom dan Tantenya itu kepadanya. Usai kursus enam bulan, Arifin diminta Oom-nya menulis lamaran kerja dalam bahasa Inggris untuk mengetahui sejauh mana kemampuannya berbahasa Inggris. Ternyata menurut Oom-nya, Arifin masih perlu mengikuti kursus lagi untuk menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya. Akhirnya setelah enam bulan kemudian, Arifin dipandang sudah cukup bagus bahasa Inggrisnya. Oom Arifin memintanya mengirim surat lamaran kerja ke beberapa perusahaan di antaranya Garuda Indonesia Airways, Stanvac, Caltex dan perusahaan perdagangan Inggris, Macline Watson & Co, NV.

Ternyata perusahaan perdagangan Inggris yang lebih dulu menanggapi dan memintanya mengikuti tes wawancara. Sebelum berangkat mengikuti wawancara, Oom Arifin memberikan kunci sukses untuk tes tersebut. “Jika kamu ditanya sekali maka jawabanmu harus sepuluh kali” demikian ujar Oom Arifin. Maksudnya adalah jika Arifin ditanya sesuatu maka ia harus menjawab secara menerangkan bukan hanya jawaban pendek saja. Hal ini penting untuk mengetahui sejauh mana kemampuan penguasaan bahasa Inggrisnya. Saat wawancara hal tersebut dipraktekkan Arifin dan sudah tentu hasilnya: ia diterima bekerja di perusahaan Inggris itu.

Arifin memulai karirnya sebagai tenaga pembukuan di perusahaan Inggris karena ia mempunyai ijazah Bond A. Setiap pagi ia berangkat ke kantor dan saat senja baru pulang ke rumah Oom-nya di Blok Q. Ada hal membuat Arifin terkejut karena semenjak ia bekerja, Tantenya menyiapkan teh hangat setiap pagi. Karuan Arifin berusaha menolak layanan istimewa itu. Namun, Tantenya memandang hal itu perlu sebelum Arifin berangkat kerja ke kantor. Tidak berasa lama, saat gajian tiba. Arifin di satu sore setelah makan malam bersama Oom dan Tantenya membuka amplop gaji pertamanya lalu berkata: “ Oom, Tante, ini separoh untuk Oom dan Tante dan sisanya untuk saya”. Namun Oom-nya menolak sambil berkata “Tidak, semua untuk Arifin”. “Kirim sebagian ke Ayah Ibu di Padang lalu sebagian lagi belikan baju, celana dan keperluan Arifin untuk bekerja.” Kembali Arifin sangat bersyukur kepada Allah, untuk kebaikan Oom dan Tantenya yang sungguh tidak akan pernah dilupakannya.

Di perjalanan kerjanya, Arifin kemudian tertarik belajar bahasa Inggris gaya Amerika, maka ia mengambil kursus di LPIA – Gambir. Selesai bekerja jam lima sore, Arifin bergegas ke Gambir untuk kursus di LPIA selama satu setengah jam setiap harinya. Guru bahasa Inggrisnya adalah seorang wanita Amerika yang ramah. Satu saat, Arifin memberanikan diri berbicara kepadanya seusai kursus. Arifin tahu bahwa gurunya tersebut tinggal di Kebayoran Baru juga, maka ia bermaksud ikut menumpang dengan mobilnya jika diperbolehkan. Ternyata guru Arifin berbaik hati mengijinkan Arifin menumpang pulang ke arah Kebayoran Baru. Sejak saat itu Arifin sering bercakap-cakap saat pulang bersama seusai kursus.

Di satu malam saat berbincang dalam perjalanan pulang seusai kursus, Arifin mengutarakan maksudnya untuk mencari pekerjaan lain kepada gurunya. Lalu atas saran gurunya, Arifin memasang iklan di koran untuk mendapat pekerjaan baru. Arifin rupanya sudah mulai jenuh bekerja sebagai tenaga pembukuan di perusahaan Inggris tersebut. Ia menginginkan penyegaran suasana. Belum lagi ada tanggapan atas iklan yang dipasangnya, Guru kursus Arifin satu waktu mengabarkan bahwa akan ada proyek Jakarta By Pass yang dikerjakan oleh perusahaan Amerika yaitu Robert W Lowry, Inc Consulting Engineers yang para Insinyurnya dari Pensylvania dimana mereka adalah teman-teman Guru kursus Arifin. Para insinyur tersebut membutuhkan orang Indonesia dalam proyek tersebut. Tak berapa lama Arifin bertemu dengan mereka untuk wawancara. Singkat cerita para insinyur itu setuju untuk menerima Arifin bekerja dalam proyek pembangunan Jakarta By Pass. Namun demikian masalah yang timbul adalah mereka ingin Arifin bekerja secepatnya, tetapi Boss Arifin di perusahaan Inggris tidak mengijinkan Arifin meninggalkan pekerjaannya sebelum menemukan penggantinya. Beruntung di perusahaan Inggris tersebut, pegawai bagian personalia adalah teman Arifin yang juga berasal dari Sumatera Barat. Atas bantuannya maka Arifin dapat memperoleh surat keterangan kerja dan lalu dapat pindah dari perusahaan Inggris ke proyek Jakarta By Pass dengan peningkatan gaji hingga enam kali lipat.

Selama bekerja dengan orang Amerika di proyek Jakarta By Pass dari tahun 1960 hingga 1963, Arifin menunjukkan kerja yang sangat disiplin dan bertanggungjawab terhadap hasil pekerjaan. Ketika proyek sudah selesai, Boss Arifin memanggilnya ke kamar kerja lalu bertanya apakah Arifin mau bekerja di Dinas Pekerjaan Umum. Namun Arifin menjawab bahwa ia tidak tertarik bekerja di instansi Indonesia. Dia lebih tertarik bekerja di perusahaan asing. Maka orang Amerika, boss-nya itu, menawarkan untuk bekerja di PUSRI, Palembang karena ada proyek Amerika di sana. Lagi-lagi Arifin menolak karena sebagai orang Sumatera ia tidak ingin kembali ke sana. Ia sudah betah tinggal di Jakarta. Lalu boss-nya bertanya apa yang diinginkannya. Arifin menjawab:” Sir, kita sering pergi ke US Embassy. Saya mau bekerja di sana”. Orang Amerika, boss-nya itu sedikit terkejut lalu membalas tanya: “ Kamu suka bekerja di Embassy?” Arifin menjawab lagi “Yes, Sir”. “ Besok kita pergi ke Embassy” sahut boss-nya.

Keesokkan harinya, saat Arifin dan boss-nya memasuki ruang kepala personalia US Embassy di Jl. Medan Merdeka Selatan, Boss-nya dengan ceria menyapa temannya yang menjadi kepala personalia US Embassy itu. “ Hi, how are you John? Listen, this is my best employee. Could you find a job for him?” tanya boss Arifin kepada temannya. Lalu segera temannya menjawab “ Sure!” Tak berapa lama Arifin diberi secarik kertas dan diminta pergi ke medical unit untuk pemeriksaan kesehatan. Selanjutnya Arifin memulai karir di US Embassy hingga pensiun tiga puluh enam tahun kemudian. Inilah pengalaman Arifin diterima bekerja tanpa menuliskan surat lamaran kerja hanya karena rekomendasi boss-nya di proyek Jakarta By Pass.


tabik,

yak on jun'07